PENAJAM PASER UTARA – Ancaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) menjelang musim kemarau menjadi perhatian serius bagi Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU). Sebagai langkah mitigasi nyata, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) PPU menggelar Apel Gelar Pasukan dan Peralatan yang dirangkai dengan simulasi penanganan karhutla di Lapangan Upacara Kantor Bupati PPU, Kamis (23/4/2026).
Kegiatan strategis ini dirancang untuk menguji kesiapsiagaan personel, kelayakan peralatan Karhutla, serta keandalan sistem komando terpadu di lapangan. Simulasi yang diperagakan mencakup skenario lengkap penanganan bencana, mulai dari sistem deteksi dini, koordinasi komunikasi, hingga eksekusi pemadaman api.
Keterlibatan Masif Berbagai Sektor
Kekuatan dari kegiatan tanggap bencana ini terletak pada partisipasi aktif multisektor. Sejumlah elemen yang turut merapatkan barisan antara lain:
-
Pemerintah & Aparat: BPBD PPU, KPHP Telake dan Saka Wana Bhakti, Dinas Pertanian, Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP), serta jajaran TNI dan Polri.
-
Sektor Swasta: Dukungan sigap dari perusahaan seperti PT Itci Hutani Manunggal (IHM), PT Fajar Surya Swadaya (FSS), PT ITCI Kartika Utama (ITCIKU), Grup PT Sukses Tani Nusasubur (STN), PT Waru Kaltim Plantation (WKP), dan PT Pertamina.
-
Elemen Masyarakat: Kehadiran garda terdepan tingkat akar rumput melalui Masyarakat Peduli Api (MPA) dan relawan Desa Tangguh Bencana (Destana).
Sinergi dan Mitigasi Dini Jadi Fokus Utama
Dalam kegiatan tersebut, Kepala Pelaksana BPBD PPU, Nurlaila, S.H., M.H., menegaskan bahwa penanganan karhutla mutlak membutuhkan kerja sama yang solid dari seluruh pemangku kepentingan.
"Kolaborasi lintas sektor sangat penting agar penanganan karhutla dapat dilakukan secara cepat, tepat, dan terkoordinasi," jelas Nurlaila.
Sementara itu, Kepala KPHP Telake, Shahar Al Haqq, S.P., M.Si., mengingatkan bahwa strategi paling ampuh dalam mengendalikan karhutla bukanlah pada pemadaman, melainkan pada pencegahan.
“Pencegahan dini jauh lebih penting. Ketika api sudah membesar, maka biaya, tenaga, dan waktu yang dibutuhkan akan meningkat drastis. Selain itu, dampaknya tidak hanya merusak lingkungan, tetapi juga menimbulkan kerugian dari sisi ekologi, ekonomi, sosial budaya, hingga berpotensi menjadi persoalan yang kompleks,” tegas Shahar.
Ia turut mengimbau masyarakat untuk terus proaktif menjaga kelestarian hutan dengan pendekatan kolaboratif yang menjunjung tinggi kearifan lokal.
Apel dan simulasi ini diharapkan tidak sekadar menjadi seremonial, tetapi benar-benar mematangkan kesiapan setiap elemen di PPU. Dengan sinergi yang terbangun, dampak destruktif dari ancaman karhutla diharapkan dapat ditekan semaksimal mungkin demi keberlanjutan lingkungan dan kehidupan warga.